Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Bebek Goreng Pak Slamet Solo
Warung bebek goreng Pak Slamet terletak di Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro. Pak Slamet mulai berjualan bebek goreng pada tahun 1986 di pinggir jalan Solo-Jogja, dan sejak tahun 1992 pindah ke dalam kampung Sedahromo Lor karena terkena pelebaran jalan.
Saat ini warung H Slamet memiliki 17 karyawan yang bekerja di bagian dapur [12 orang] dan pelayanan [5 orang]. Bu Baryatin, istri H Slamet menjadi komandan di bagian dapur dan H Slamet sendiri menjadi pengawas di bagian pelayanan.
Kami sampai di warung H Slamet sekitar jam 11.15, agak terlalu cepat untuk makan siang, namun suasana warung sudah sangat ramai, penuh dengan pengunjung yang menikmati makan siang. Beruntung kami masih memperoleh satu meja kosong dengan tempat duduk lesehan di atas tikar. Kami pun kemudian memesan menu makan siang. Saya dan Bima memesan dada bebek goreng, Ibunya Afa memesan paha bebek goreng da Afa memesan kepala bebek goreng. Sedangkan untuk minuman kami memesan teh manis dan jeruk panas.
Pesanan kami datang tidak lama kemudian. Bebek goreng disajikan dalam satu piring, lalapan dalam piring yang lain dan samabal koreknya disajikan dalam cobek tanah liat.
Bebek goreng adalah menu andalan di rumah makan ini. Bebek goreng menggunakan bahan bebek apkiran yaitu bebek yang sudah bertelur 4 kali selama kurang lebih 2 tahun. Penggunaan bebek apkiran ini karena dagingnya tidak mudah hancur seperti kalau menggunakan bebek muda. Bebek goreng ini direbus dulu bersama dengan bumbu sebelum digoreng, sehingga bumbunya meresap dan empuk.
Saat ini warung H Slamet memiliki 17 karyawan yang bekerja di bagian dapur [12 orang] dan pelayanan [5 orang]. Bu Baryatin, istri H Slamet menjadi komandan di bagian dapur dan H Slamet sendiri menjadi pengawas di bagian pelayanan.
Kami sampai di warung H Slamet sekitar jam 11.15, agak terlalu cepat untuk makan siang, namun suasana warung sudah sangat ramai, penuh dengan pengunjung yang menikmati makan siang. Beruntung kami masih memperoleh satu meja kosong dengan tempat duduk lesehan di atas tikar. Kami pun kemudian memesan menu makan siang. Saya dan Bima memesan dada bebek goreng, Ibunya Afa memesan paha bebek goreng da Afa memesan kepala bebek goreng. Sedangkan untuk minuman kami memesan teh manis dan jeruk panas.
Pesanan kami datang tidak lama kemudian. Bebek goreng disajikan dalam satu piring, lalapan dalam piring yang lain dan samabal koreknya disajikan dalam cobek tanah liat.
Bebek goreng adalah menu andalan di rumah makan ini. Bebek goreng menggunakan bahan bebek apkiran yaitu bebek yang sudah bertelur 4 kali selama kurang lebih 2 tahun. Penggunaan bebek apkiran ini karena dagingnya tidak mudah hancur seperti kalau menggunakan bebek muda. Bebek goreng ini direbus dulu bersama dengan bumbu sebelum digoreng, sehingga bumbunya meresap dan empuk.
Serabi Notosuman Khas Solo
Serabi Notosuman sangat terkenal, terletak di daerah Notosuman, dibuat sejak tahun 20-an. Seolah tak ketinggalan jaman, banyak pendatang membeli untuk dijadikan oleh-oleh. Rasanya gurih berasal dari santan kelapa, dengan pilihan taburan coklat di atasnya.
Karena ramainya pembeli, disarankan Anda memesan dahulu lewat telepon, namun harus diambil tepat waktu menurut perjanjian, jika terlambat, Anda akan kecewa karena serabi Anda telah dijual kepada orang lain. Harganya lebih mahal dibanding serabi yang dijual di pinggir jalan Slamet Riyadi, karena memang rasanya beda, lebih gurih dan manis, dan tahan hingga 24 jam.
Siapa yang tak kenal serabi solo? Saking terkenalnya penganan yang satu ini selalu menjadi buah tangan saat berkunjung ke kota tersebut. Salah satu penjual serabi yang terkenal adalah serabi Notosuman. Selain enak, legit, juga telah terjamin kehalalannya!
Di kota Solo memang banyak pembuat serabi, namun yang paling terkenal adalah Serabi Notosuman. Saking terkenalnya bahkan namanya sudah melagenda melebihi nama daerah tempat serabi tersebut berasal – Notosuman yang kini telah berganti nama menjadi Jl. Mohammad Yamin.
Serabi terbuat dari bahan dasar tepung beras dan santan. Oleh karena itu pula serabi ini hanya mampu bertahan selama 24 jam alias satu hari lamanya. Bentuknya yang bulat dengan taburan areh diatasnya memberi aksen gurih dan khas pada serabi Notosuman tersebut.
Ada dua toko penjual Serabi Notosuman yang terletak di Jl. Mohammad Yamin tersebut. Masing-masing dikenal sebagai serabi bungkus hijau dan serabi bungkus orange – meski begitu keduanya sama-sama berasal dari keturunan yang sama dari Hoo Gek Hok si perintis Serabi Notosuman sejak tahun 1923.
Serabi solo bungkus hijau dikenal sebagai Serabi Notosuman Ny. Lydia. Lydiawati merupakan pemilik toko serabi dan sekaligus merupakan generasi ke-3 dari Serabi Notosuman. Meski berada di jalan yang sama dan menjual produk yang sama, ia mengaku tidak saling bersaing dengan serabi bungkus orange milik saudaranya.
Yang membuat keduanya berbeda, Serabi Notosuman Ny. Lydia telah terjamin kehalalannya karena telah dilengkapi sertifikat halal. Kini dengan sertifikat halal yang dimilikinya, ia pun makin mantap dan yakin dalam menjawab keraguan para pelanggannya. Bahkan pembeli akan semakin merasa aman dengan logo halal yang terpampang di billboard tokonya.
“Saya bertanggung jawab dengan bahan-bahan dan kualitas serabi ini sehingga langkah sertifikasi halal penting. Dengan itu saya tidak hanya bertanggung jawab pada konsumen tetapi juga pada Tuhan,” ujar Lydia kepada Jurnal Halal.
Banyak pelanggan yang datang lantas tak membuatnya berpuas diri. Ia pun melakukan penyempurnaan pada tokonya dengan melakukan pemisahan ruang produksi dan ruang toko untuk melayani para konsumen, sesuai dengan peraturan pemerintah.
Untuk melayani para pelanggannya Serabi Notosuman sudah mulai membuka tokonya sejak pukul 3 pagi. Para langganannya pun sangat beragam mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, wisatawan, hingga para pejabat. Nah, kalau berkunjung ke Solo jangan lewatkan mencicipi serabi Notosuman ya?
Serabi Notosuman
Jl. Mohhamad Yamin No.28
Solo
Telp: 0271-651 852/634433
Karena ramainya pembeli, disarankan Anda memesan dahulu lewat telepon, namun harus diambil tepat waktu menurut perjanjian, jika terlambat, Anda akan kecewa karena serabi Anda telah dijual kepada orang lain. Harganya lebih mahal dibanding serabi yang dijual di pinggir jalan Slamet Riyadi, karena memang rasanya beda, lebih gurih dan manis, dan tahan hingga 24 jam.
Siapa yang tak kenal serabi solo? Saking terkenalnya penganan yang satu ini selalu menjadi buah tangan saat berkunjung ke kota tersebut. Salah satu penjual serabi yang terkenal adalah serabi Notosuman. Selain enak, legit, juga telah terjamin kehalalannya!
Di kota Solo memang banyak pembuat serabi, namun yang paling terkenal adalah Serabi Notosuman. Saking terkenalnya bahkan namanya sudah melagenda melebihi nama daerah tempat serabi tersebut berasal – Notosuman yang kini telah berganti nama menjadi Jl. Mohammad Yamin.
Serabi terbuat dari bahan dasar tepung beras dan santan. Oleh karena itu pula serabi ini hanya mampu bertahan selama 24 jam alias satu hari lamanya. Bentuknya yang bulat dengan taburan areh diatasnya memberi aksen gurih dan khas pada serabi Notosuman tersebut.
Ada dua toko penjual Serabi Notosuman yang terletak di Jl. Mohammad Yamin tersebut. Masing-masing dikenal sebagai serabi bungkus hijau dan serabi bungkus orange – meski begitu keduanya sama-sama berasal dari keturunan yang sama dari Hoo Gek Hok si perintis Serabi Notosuman sejak tahun 1923.
Serabi solo bungkus hijau dikenal sebagai Serabi Notosuman Ny. Lydia. Lydiawati merupakan pemilik toko serabi dan sekaligus merupakan generasi ke-3 dari Serabi Notosuman. Meski berada di jalan yang sama dan menjual produk yang sama, ia mengaku tidak saling bersaing dengan serabi bungkus orange milik saudaranya.
Yang membuat keduanya berbeda, Serabi Notosuman Ny. Lydia telah terjamin kehalalannya karena telah dilengkapi sertifikat halal. Kini dengan sertifikat halal yang dimilikinya, ia pun makin mantap dan yakin dalam menjawab keraguan para pelanggannya. Bahkan pembeli akan semakin merasa aman dengan logo halal yang terpampang di billboard tokonya.
“Saya bertanggung jawab dengan bahan-bahan dan kualitas serabi ini sehingga langkah sertifikasi halal penting. Dengan itu saya tidak hanya bertanggung jawab pada konsumen tetapi juga pada Tuhan,” ujar Lydia kepada Jurnal Halal.
Banyak pelanggan yang datang lantas tak membuatnya berpuas diri. Ia pun melakukan penyempurnaan pada tokonya dengan melakukan pemisahan ruang produksi dan ruang toko untuk melayani para konsumen, sesuai dengan peraturan pemerintah.
Untuk melayani para pelanggannya Serabi Notosuman sudah mulai membuka tokonya sejak pukul 3 pagi. Para langganannya pun sangat beragam mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, wisatawan, hingga para pejabat. Nah, kalau berkunjung ke Solo jangan lewatkan mencicipi serabi Notosuman ya?
Serabi Notosuman
Jl. Mohhamad Yamin No.28
Solo
Telp: 0271-651 852/634433
Pujamari Sragen
Sejak dibuka pada akhir Februari 2008 lalu, Pusat Jajan Malam hari (Pujamari) tak pernah sepi pengunjung, tiap malamnya dikunjungi tak kurang dari 500 orang. Bila malam minggu, pengunjung bisa dipastikan lebih banyak dari hari-hari biasa. ”Pada malam Minggu pengunjung yang datang kesini biasanya sekitar 700 sampai 800 orang” terang Nugroho, Manajer Pujamari.
Pujamari merupakan tempat jajan malam hari yang terletak di pinggir jalan raya Sukowati, tepatnya di halaman Galery Batik Sukowati, tak jauh dari Kantor Pemkab Sragen. Pujamari hanya dibuka pada malam hari jam 17.00 wib sampai jam 22.00 wib. Tak jarang jam 21.00 wib sudah tutup karena makanan telah habis diserbu pengunjung.
Pengunjung tidak hanya di dominasi oleh warga Sragen saja. Banyak juga pengunjung yang datang dari luar Sragen, hal ini bisa dilihat dari plat mobil yang di parkir di pelataran Pujamari. Salah satunya adalah Ardian warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Ardian, yang datang dengan menggunakan mobil plat AE, mengatakan bahwa bila ia jajan di Pujamari serasa menikmati suasana malam hari di Singapura. Menurutnya desain tempat Pujamari hampir mirip dengan tempat jajan malam hari di Singapura. Ia yang pernah tinggal di Singapura selama sepuluh tahun, bila kangen dengan suasana malam hari di Singapura pastilah ia singgah di Pujamari. ”Sudah sekitar 15 kali, saya menikmati makan malam di Pujamari bersama keluarga” aku Ardian.
Kebanyakan pengunjung datang bersama dengan keluarga, anak dan istrinya. Dari kalangan muda biasanya datang bersama teman-temannya. Seperti Arifah, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS Surakarta, yang malam itu datang ke Pujamari bersama 10 orang teman-teman se-Fakultasnya. Ia mengatakan, bahwa Pujamari sangat enak untuk ngumpul-ngumpul bersama teman-temannya. ”Makan malam di Pujamari sangat asyik banget, suasanya santai, asyik untuk ngumpul bersama teman-teman” aku Arifah.
Banyak menu yang disediakan disini, mulai dari nasi tumpang mbah Jami, soto daging sapi S. Gimo Girin, Tengkleng Sapi Taruna Sukowati, sego liwet padang bulan, mie ayam bakso sony dan gudek ceker bu Ami. Disini juga disediakan puluhan aneka macam minuman. Menurut Nugroho, menu yang paling digemari pengunjung yang berasal dari luar Sragen adalah nasi tumpang. ”Karena nasi tumpang sulit di temui di luar daerah Sragen dan Solo, sehingga banyak pengunjung dari luar Sragen yang menyukai menu ini” terang Nugroho.
Pengunjung yang menikmati makan malam disini, disuguhi oleh alunan musik keroncong yang dibawakan oleh 5 orang. Pengunjung bisa meminta lagu-lagu kesukaannya. Kedepan, selain musik keroncong juga akan di varisasi dengan musik campur sari. ”Agar pengunjung tidak bosan, kami akan mevariasi musik pengiring dengan musik campu sari, organ tunggal dan musik klasik” terang Nugroho.
Sambil makan malam di Pujamari, pengunjung juga dapat menikmati suasana Jalan raya Sukowati di waktu malam. Aneka lampu hias warna-warni yang terpasang disepanjang jalan Sukowati ditambah tertibnya para pengguna lalu lintas di sepanjang jalan tersebut semakin menambah indahnya kota Sragen dimalam hari
Pujamari merupakan tempat jajan malam hari yang terletak di pinggir jalan raya Sukowati, tepatnya di halaman Galery Batik Sukowati, tak jauh dari Kantor Pemkab Sragen. Pujamari hanya dibuka pada malam hari jam 17.00 wib sampai jam 22.00 wib. Tak jarang jam 21.00 wib sudah tutup karena makanan telah habis diserbu pengunjung.
Pengunjung tidak hanya di dominasi oleh warga Sragen saja. Banyak juga pengunjung yang datang dari luar Sragen, hal ini bisa dilihat dari plat mobil yang di parkir di pelataran Pujamari. Salah satunya adalah Ardian warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Ardian, yang datang dengan menggunakan mobil plat AE, mengatakan bahwa bila ia jajan di Pujamari serasa menikmati suasana malam hari di Singapura. Menurutnya desain tempat Pujamari hampir mirip dengan tempat jajan malam hari di Singapura. Ia yang pernah tinggal di Singapura selama sepuluh tahun, bila kangen dengan suasana malam hari di Singapura pastilah ia singgah di Pujamari. ”Sudah sekitar 15 kali, saya menikmati makan malam di Pujamari bersama keluarga” aku Ardian.
Kebanyakan pengunjung datang bersama dengan keluarga, anak dan istrinya. Dari kalangan muda biasanya datang bersama teman-temannya. Seperti Arifah, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS Surakarta, yang malam itu datang ke Pujamari bersama 10 orang teman-teman se-Fakultasnya. Ia mengatakan, bahwa Pujamari sangat enak untuk ngumpul-ngumpul bersama teman-temannya. ”Makan malam di Pujamari sangat asyik banget, suasanya santai, asyik untuk ngumpul bersama teman-teman” aku Arifah.
Banyak menu yang disediakan disini, mulai dari nasi tumpang mbah Jami, soto daging sapi S. Gimo Girin, Tengkleng Sapi Taruna Sukowati, sego liwet padang bulan, mie ayam bakso sony dan gudek ceker bu Ami. Disini juga disediakan puluhan aneka macam minuman. Menurut Nugroho, menu yang paling digemari pengunjung yang berasal dari luar Sragen adalah nasi tumpang. ”Karena nasi tumpang sulit di temui di luar daerah Sragen dan Solo, sehingga banyak pengunjung dari luar Sragen yang menyukai menu ini” terang Nugroho.
Pengunjung yang menikmati makan malam disini, disuguhi oleh alunan musik keroncong yang dibawakan oleh 5 orang. Pengunjung bisa meminta lagu-lagu kesukaannya. Kedepan, selain musik keroncong juga akan di varisasi dengan musik campur sari. ”Agar pengunjung tidak bosan, kami akan mevariasi musik pengiring dengan musik campu sari, organ tunggal dan musik klasik” terang Nugroho.
Sambil makan malam di Pujamari, pengunjung juga dapat menikmati suasana Jalan raya Sukowati di waktu malam. Aneka lampu hias warna-warni yang terpasang disepanjang jalan Sukowati ditambah tertibnya para pengguna lalu lintas di sepanjang jalan tersebut semakin menambah indahnya kota Sragen dimalam hari
Sumber : htt://www.sragenkab.go.id
Soto Girin Sragen
Soto Girin adalah masakan khas Sragen yang bukan sekedar soto yang pernah kita rasakan, soto ini dapat menghipnotis setiap pelanggan yang datang dan merasakan masakan ini karena cara memasak menggunakan kuali yang terbuat dari tanah liat kemudian untuk perapian menggunakan arang atau kayu bakar.
Soto Girin ini berdiri berpuluh-puluh tahun yang lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Pak Girin Cabangnya pun ada dimana-mana, ada yang di Solo, Karanganyar dan Manahan. Sedangkan yang ada di Sragen sendiri berada di jalan Brigjend. Katamso No. 2, Sragen. Pelanggan soto Pak Girin ini tak hanya dari dalam kota saja, melainkan dari luar kota Sragen dan dari para pejabat hingga rombongan pariwisata.
Cara penyajian soto ini tidak jauh berbeda dengan penyajian soto-soto pada umumnya. Berisi nasi putih, taoge dan irisan seledri segar yang kemudian disiram kuah kaldu hangat beserta daging sapi dan ditaburi bawang goreng diatasnya. Biasanya para pelanggan yang makan di tempat ini bisa menghabiskan 2 mangkuk, karena mangkuknya berukuran kecil setengah dari mangkuk-mangkuk biasa, dan menurut beberapa orang soto yang ada di cabangnya berbeda dan tidak bisa seenak dari yang ada di pusatnya. Konon menurut sesepuhnya, soto ini akan berubah rasa apabila dibuka ditempat lain.Warung Soto ini dibuka dari jam 5 subuh dan para kuliner tidak perlu khawatir bahkan sampai sore jam 8 pun masih buka.
Soto Girin ini berdiri berpuluh-puluh tahun yang lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Pak Girin Cabangnya pun ada dimana-mana, ada yang di Solo, Karanganyar dan Manahan. Sedangkan yang ada di Sragen sendiri berada di jalan Brigjend. Katamso No. 2, Sragen. Pelanggan soto Pak Girin ini tak hanya dari dalam kota saja, melainkan dari luar kota Sragen dan dari para pejabat hingga rombongan pariwisata.
Cara penyajian soto ini tidak jauh berbeda dengan penyajian soto-soto pada umumnya. Berisi nasi putih, taoge dan irisan seledri segar yang kemudian disiram kuah kaldu hangat beserta daging sapi dan ditaburi bawang goreng diatasnya. Biasanya para pelanggan yang makan di tempat ini bisa menghabiskan 2 mangkuk, karena mangkuknya berukuran kecil setengah dari mangkuk-mangkuk biasa, dan menurut beberapa orang soto yang ada di cabangnya berbeda dan tidak bisa seenak dari yang ada di pusatnya. Konon menurut sesepuhnya, soto ini akan berubah rasa apabila dibuka ditempat lain.Warung Soto ini dibuka dari jam 5 subuh dan para kuliner tidak perlu khawatir bahkan sampai sore jam 8 pun masih buka.
SACI Camilan Khas Sragen
SRAGEN - Makanan kecil atau camilan, adalah jenis makanan yang banyak dicari orang untuk sekedar menemani berbagai aktivitas, sebagai suguhan tamu atau untuk buah tangan atau oleh-oleh. Di Sragen sendiri sat ini tekah dikembangkan camilan khas Sragen, yang diberi nama Saci alias Sragen munchies. Saci adalah camilan sejenis dodol yang terbuat dari bahan alami dan baru diperkenalkan pada tahun 2009 ini. Saci memilki cita rasa yang manis dan legit, serta bentuk fisik yang menarik sehingga memikat siapapun untuk mencicipi makanan tersebut.
“Bermula dari camilan asal Turki yang bernama Turkish delight yang merupakan oleh-oleh khas asal Turki. Dari situlah tercetus ide agar Sragen mempunyai camilan khas yang tak ada di kota lain,” ungkap supervisor food production house nDayu Park Sragen Yunita Parwitri, S. Farm, Apt.
Menurut Yunita satu pak saci berisi 10 potong dijual seharga Rp. 15 ribu. Harga Rp 15 ribu per pak tersebut tidaklah mahal apabila, apabila dibandingkan dengan rasanya yang lezat, kemasan yang menarik serta, bahan-bahannya yang alami, tanpa bahan kimia. Bahan baku Saci terbuat dari tepung garut, gula aren dan bumbu-bumbu lain. Selain itu untuk pelezat juga menggunakan madu murni serta kacang mete.
Untuk sementara produk camilan Saci ini baru bisa dibeli di resto nDayu park, Sentra Bisnis Batik Sukowati (SBBI) dan Galeri Batik Sukowati. Untuk pengembangan kedepan rencananya produk ini akan dipasarkan ke seluruh wilayah Jawa Tengah.
“Saci sudah mendapatkan nomor registrasi produk dari Badan Pelayanan Terpadu Sragen. Aman dikonsumsi karena tidak mengandung pewarna dan zat pengawet,” ungkap Yunita.
Salah satu pembeli saci, Vivi (16 tahun) mengaku sangat menyukai makanan ini, karena rasa manis dan legitnya yang sangat khas. “Makanan ini mirip dodol, tapi rasanya sangat khas dan beda dengan dodol-dodol pada umumnya. Yang jelas tak ada duanya” kata Vivi. (Rin – Humas)
“Bermula dari camilan asal Turki yang bernama Turkish delight yang merupakan oleh-oleh khas asal Turki. Dari situlah tercetus ide agar Sragen mempunyai camilan khas yang tak ada di kota lain,” ungkap supervisor food production house nDayu Park Sragen Yunita Parwitri, S. Farm, Apt.
Menurut Yunita satu pak saci berisi 10 potong dijual seharga Rp. 15 ribu. Harga Rp 15 ribu per pak tersebut tidaklah mahal apabila, apabila dibandingkan dengan rasanya yang lezat, kemasan yang menarik serta, bahan-bahannya yang alami, tanpa bahan kimia. Bahan baku Saci terbuat dari tepung garut, gula aren dan bumbu-bumbu lain. Selain itu untuk pelezat juga menggunakan madu murni serta kacang mete.
Untuk sementara produk camilan Saci ini baru bisa dibeli di resto nDayu park, Sentra Bisnis Batik Sukowati (SBBI) dan Galeri Batik Sukowati. Untuk pengembangan kedepan rencananya produk ini akan dipasarkan ke seluruh wilayah Jawa Tengah.
“Saci sudah mendapatkan nomor registrasi produk dari Badan Pelayanan Terpadu Sragen. Aman dikonsumsi karena tidak mengandung pewarna dan zat pengawet,” ungkap Yunita.
Salah satu pembeli saci, Vivi (16 tahun) mengaku sangat menyukai makanan ini, karena rasa manis dan legitnya yang sangat khas. “Makanan ini mirip dodol, tapi rasanya sangat khas dan beda dengan dodol-dodol pada umumnya. Yang jelas tak ada duanya” kata Vivi. (Rin – Humas)
Sumber : http://www.sragenkab.go.id
Kuliner Karanganyar Dari Yang Unik Sampai Yang Ekstrem
![]() |
| Sate Landak |
Kesejukan kawasan Kabupaten Karanganyar sangat mendukung wisata kuliner karena di daerah ini ada cukup banyak santapan dan penganan unik. Salah satunya adalah sate landak di kawasan objek wisata lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Di daerah ini terdapat warung makan milik Sukatno yang menjadi buruan para wisatawan termasuk pemudik.
SATE LANDAK -- Sate landak tengah dibakar di warung milik Sukatno di pinggiran jalan raya Tawangmangu-Matesih Km 2, Karanganyar. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Selama libur Lebaran, warung makan di Jl Matesih-Tawangmangu Km 2 ini kebanjiran pembeli. Tidak hanya sajian makanan yang menggoda selera, warung makan milik Sukatno ini menawarkan panorama alam pegunungan. Cukup bermodalkan Rp 30.000, konsumen dapat menikmati satu porsi sate landak dan segelas bir plethok penghangat tubuh yang berbahan rempah-rempah.
Tidak hanya sate landak, di warung ini juga menyediakan menu ekstrem lainnya seperti sate kalong, biawak dan tupai.
Pemudik dari Bandung, Cecep F, saat dijumpai, Jumat (2/9/2011), menjajal rasa daging hewan berkulit duri itu. “Ternyata rasanya enak dan tidak berbau amis. Dagingnya empuk tidak kalah dengan daging kelinci,” ujarnya.
Selain dapat mencoba menu ekstrem, para pemudik tidak perlu bingung mencari oleh-oleh khas Karanganyar. Sukatno termasuk kreator bakpia ubi cilawu khas Tawangmangu. Bukannya berisi kacang hijau seperti bakpia Pathuk khas Jogja, bakpia Cilawu berisi pisang raja dan ubi cilawu. Rasanya tak kalah nikmat dengan bakpia-bakpia yang sudah terkenal lebih dulu di pasaran. ”Selama Lebaran ini, permintaan naik hampir 200%. Karena ini satu-satunya oleh-oleh bakpia khas Karanganyar,” ujar Sukatno.
SATE LANDAK -- Sate landak tengah dibakar di warung milik Sukatno di pinggiran jalan raya Tawangmangu-Matesih Km 2, Karanganyar. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Selama libur Lebaran, warung makan di Jl Matesih-Tawangmangu Km 2 ini kebanjiran pembeli. Tidak hanya sajian makanan yang menggoda selera, warung makan milik Sukatno ini menawarkan panorama alam pegunungan. Cukup bermodalkan Rp 30.000, konsumen dapat menikmati satu porsi sate landak dan segelas bir plethok penghangat tubuh yang berbahan rempah-rempah.
Tidak hanya sate landak, di warung ini juga menyediakan menu ekstrem lainnya seperti sate kalong, biawak dan tupai.
Pemudik dari Bandung, Cecep F, saat dijumpai, Jumat (2/9/2011), menjajal rasa daging hewan berkulit duri itu. “Ternyata rasanya enak dan tidak berbau amis. Dagingnya empuk tidak kalah dengan daging kelinci,” ujarnya.
Selain dapat mencoba menu ekstrem, para pemudik tidak perlu bingung mencari oleh-oleh khas Karanganyar. Sukatno termasuk kreator bakpia ubi cilawu khas Tawangmangu. Bukannya berisi kacang hijau seperti bakpia Pathuk khas Jogja, bakpia Cilawu berisi pisang raja dan ubi cilawu. Rasanya tak kalah nikmat dengan bakpia-bakpia yang sudah terkenal lebih dulu di pasaran. ”Selama Lebaran ini, permintaan naik hampir 200%. Karena ini satu-satunya oleh-oleh bakpia khas Karanganyar,” ujar Sukatno.
![]() |
| Bakpia Isi Pisang |
BAKPIA KHAS -- Jika Jogja punya bakpia Pathuk dengan isi kacang hijau, Karanganyar punya bakpia khas yang diisi pisang dan ubi Cilawu, alias ubi madu Cilembu yang dibudidayakan di Tawangmangu. (JIBI/SOLOPOS/Indah Septiyaning W)
Ide awal membuat bakpia karena dia senang membuat sesuatu yang belum ada. Yang sudah ada dan yang belum ada itu, lebih banyak yang belum ada. Bakpia menggunakan pisang raja dan ubi cilawu karena dirinya ingin memanfaatkan hasil alam Tawangmangu. Benar-benar khas makanan Karanganyar. ”Pisang raja banyak ditemukan di Tawangmangu sedangkan ubi cilawu, sebenarnya ubi cilembu yang dibudidayakan di Tawangmangu. Ubi ini ubi cilembu yang berkembang di lereng Lawu,” paparnya.
Setiap pekan, sedikitnya 200 dus bakpia dilempar ke pasaran melalui toko-toko dan hotel di Tawangmangu. Tiap dus berisi 16 biji bakpia. Bakpia tersebut juga hampa udara, mampu bertahan hingga satu tahun lebih tanpa bahan pengawet. ”Kemarin kami membuat dua kali lipat dari biasa, 200 dus menjadi 400-an dus, dan kini sudah habis. Lebaran ini benar-benar laris manis,” tuturnya.
Dia menuturkan jumlah pembeli mulai mengalami kenaikan hingga 100% dibandingkan hari-hari biasanya. Kenaikan jumlah pembeli mulai terjadi pada H+1 Lebaran ini. Menurutnya, para pembeli mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. “Ya ini sudah mulai ada kenaikan jumlah pembeli,” katanya.
Sumber : http://www.solopos.com
Makanan Khas Solo
Tengkleng
Tengkleng adalah masakan yang mirip dengan gulai hanya saja didalamnya berisi tulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, dapat ditambah dengan sate kambing, sate usus, sate jeroan, dan bagian lainnya pada organ kambing yang ikut digulai bersama tulang tulang seperti mata, pipi, kuping dan kandungan (klepon).
Tengkleng adalah masakan yang mirip dengan gulai hanya saja didalamnya berisi tulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, dapat ditambah dengan sate kambing, sate usus, sate jeroan, dan bagian lainnya pada organ kambing yang ikut digulai bersama tulang tulang seperti mata, pipi, kuping dan kandungan (klepon).
Nasi Liwet
Nasi yang dimasak dengan santan, ditambah sayur sambal goreng jipan dan disempurnakan dengan kumut (terbuat dari santan dan rasanya sangat gurih). Biasanya ditambah ayam kampung dan telur, membuat masakan ini memikat dan menjadikannya hidangan khas Soo yang pertarna dicari dan dirinndukan.
Bestik Solo
Berbeda dengan bestik pada umumnya. Bestik Solo memiliki khas tersendiri. Kuah dari bestik ini serupa dengan kuah semur, selain itu bestik ini menggunakan mustard jawa yang merupakan olahan sendiri. Sedangkan untuk bahan lainnya tak berbeda dengan bestik biasa, ada wortel, buncis, dan timun didalamnya. Hanya saja karena bumbu yang berbeda anda akan menemukan cita rasa khas yang berbeda pula.
Gudeg Cakar
Seperti halnya nasi gudeg manis khas Solo yang ada, rasa masakan inj tak jaub beda. Namun dengan ditambah cakar ayam yang sangat empuk dan nasi yang gurih menjadikan hidangan ini berbeda. Bahkan orang rela antri untuk membelinya.
Sate Kere
Namanya yang unik tak berbeda pula dengan rasanya. Pada dasarnya pembuatan dan bumbu sate ini sama dengan sate pada umumnya. Hanya saja sate ini bahannya bukan berasal dari daging namun dari tempe gembus (ampas tahu yang direbus). Maka tak heran sate ini diberi nama sate kere.
Timlo Solo
Istilah Timlo Solo tentu bukan hal yang asing lagi, terutama bagi anda yang gemar traveling. Masakan ini sekilas bumbunya mirip sup namun isi dan rasanya sangat khas. Hidangan yang terdiri atas racikan soun, jamur kuping, wortel, kacang kapri, kembang gayam/sosis jawa dan terakhir disiram kuah hangat menjadikannya sangat lezat untuk dinikmati.
Pecel
Masakan ini bisa dibilang merupakan masakan kampung yang sederhana namun masih selalu dirindukan. Bagaimana tidak, hidangan ini hanya terdiri dari bayam, kacang panjang, tauge dan kenikir yang direbus dan ditambah bumbu kacang. Bila diperhatikan semua bahan yang digunakan mudah dicari dan diolah. Namun bila anda sudah mencicipi, rasa nikmat sebenarnya dapat anda temukan pada burnbu kacang yang diolah secara khusus. Sehingga sering kali banyak wisatawan yang ingin membawa bumbu pecel ini sebagai oleh oleh.
Cabuk Rambak
lsi dan hidangan ini sekilas tampak sederhana. Berupa ketupat yang diiris tipis tipis dan diberi bumbu diatas setiap potongan ketupatnya kemudian ditambah karak sebagai pelengkap. Namun jangan terkelut bila setelah mencicipinya anda menjadi ketagihan.
Intip
Makanan ini terbuat dari bahan yang berasal dari kerak nasi yang kemudian dikeringkan dan digoreng (intip). Perpaduan rasa intip dengan gula jawa cairnya yang melekat pada intip memberikan sentuhan rasa manis yang menggoda, atau bumbu yang lain, membuat rasa intip menjadi gurih dan renyah untuk camilan.
Sate Buntel
Sate adalah makanan lezat yang popular diseluruh nusantara. Begitu pula di Solo, anda akan menemui berbagai jenis sate. Ada sate ayann, sapi, ular, anjing dan babi. Namun sate yang paling terkenal adalah sate buntel. Sate ini berbahan dasar daging kambing, hanya saja dagingnya dicincang dan dibuat satu adonan besar lalu dibakar/dimasak. Maka tak heran selain porsinya yang besar rasanya pun lebih mantap.
Wedang Ronde
Minuman hangat ini terbuat dari jahe dan gula merah. Kemudian didalamnya terdapat kacang tanah, kolang kaling yang di iris tipis dan adonan manis yang didalamnya terdapat kacang. Bukan hanya rasanya yang enak dan menghangatkan, namun sajian hidangan ini juga tampak memikat.
Dawet Gempol Pleret
Seperti namanya, minuman ini berisi gempol dan pleret. Gempol terbuat dan sejenis tepung beras. Sedangkan pleret terbuat dari ketan dan gula merah. Gempol dan pleret merupakan perpaduan antara rasa gurih dan manis, kemudlan diberi kuah santan dan gula merah. Dengan ditambah es menjadikan minuman ini terasa semakin segar.
Wedang Beras Kencur
Dibuat dari bahan beras dan kencur yang diolah menjadi minuman. Selain rasanya yang manis dan enak minuman ini juga dapat menjadt jamu yang berguna untuk kesehatan.
Wedang Jahe
Dengan kemampuan sipembuatya dalam mengolah dan meracik menjadikan wedang jahe ini begitu diminati. Minuman ini selain enak juga dapat menghangatkan tubuh, maka anda akan mudah mejumpainya pada malam hari.
Karak
Sejenis kerupuk yang terbuat dan bahan baku beras yang diolah menjadi nasi yang kemudian dikeringkan dan digoreng. Rasanya gurih, biasa digunakan untuk teman santapan soto,sayur lode dan sayuran lainnya.
Rambak Udel
Sama seperti fungsi kerupuk sebagai pelengkap, makanan rambak ini juga demikian adanya. Namun bahan baku rambak ini adalah dari kulit sapi. Makanan Ini dapat diperoleh di pusat oleh-oleh khas Solo.
Srabi Notosuman
Makanan ini terbuat dari bahan tepung beras yang dibuat sedemikian rupa dalam mengolah dan menjadikan Srabi ini begitu diminati. Bahkan dapat dikatakan makanan ini di minat banyak kalangan atas maupun bawah. Makanan ini selain enak juga dapat sebagai pengganti makanan pokok. Anda dapat mudah menjumpai makanan ini di sepanjang kota Solo, siang ataupun malam.
Nasi yang dimasak dengan santan, ditambah sayur sambal goreng jipan dan disempurnakan dengan kumut (terbuat dari santan dan rasanya sangat gurih). Biasanya ditambah ayam kampung dan telur, membuat masakan ini memikat dan menjadikannya hidangan khas Soo yang pertarna dicari dan dirinndukan.
Bestik Solo
Berbeda dengan bestik pada umumnya. Bestik Solo memiliki khas tersendiri. Kuah dari bestik ini serupa dengan kuah semur, selain itu bestik ini menggunakan mustard jawa yang merupakan olahan sendiri. Sedangkan untuk bahan lainnya tak berbeda dengan bestik biasa, ada wortel, buncis, dan timun didalamnya. Hanya saja karena bumbu yang berbeda anda akan menemukan cita rasa khas yang berbeda pula.
Gudeg Cakar
Seperti halnya nasi gudeg manis khas Solo yang ada, rasa masakan inj tak jaub beda. Namun dengan ditambah cakar ayam yang sangat empuk dan nasi yang gurih menjadikan hidangan ini berbeda. Bahkan orang rela antri untuk membelinya.
Sate Kere
Namanya yang unik tak berbeda pula dengan rasanya. Pada dasarnya pembuatan dan bumbu sate ini sama dengan sate pada umumnya. Hanya saja sate ini bahannya bukan berasal dari daging namun dari tempe gembus (ampas tahu yang direbus). Maka tak heran sate ini diberi nama sate kere.
Timlo Solo
Istilah Timlo Solo tentu bukan hal yang asing lagi, terutama bagi anda yang gemar traveling. Masakan ini sekilas bumbunya mirip sup namun isi dan rasanya sangat khas. Hidangan yang terdiri atas racikan soun, jamur kuping, wortel, kacang kapri, kembang gayam/sosis jawa dan terakhir disiram kuah hangat menjadikannya sangat lezat untuk dinikmati.
Pecel
Masakan ini bisa dibilang merupakan masakan kampung yang sederhana namun masih selalu dirindukan. Bagaimana tidak, hidangan ini hanya terdiri dari bayam, kacang panjang, tauge dan kenikir yang direbus dan ditambah bumbu kacang. Bila diperhatikan semua bahan yang digunakan mudah dicari dan diolah. Namun bila anda sudah mencicipi, rasa nikmat sebenarnya dapat anda temukan pada burnbu kacang yang diolah secara khusus. Sehingga sering kali banyak wisatawan yang ingin membawa bumbu pecel ini sebagai oleh oleh.
Cabuk Rambak
lsi dan hidangan ini sekilas tampak sederhana. Berupa ketupat yang diiris tipis tipis dan diberi bumbu diatas setiap potongan ketupatnya kemudian ditambah karak sebagai pelengkap. Namun jangan terkelut bila setelah mencicipinya anda menjadi ketagihan.
Intip
Makanan ini terbuat dari bahan yang berasal dari kerak nasi yang kemudian dikeringkan dan digoreng (intip). Perpaduan rasa intip dengan gula jawa cairnya yang melekat pada intip memberikan sentuhan rasa manis yang menggoda, atau bumbu yang lain, membuat rasa intip menjadi gurih dan renyah untuk camilan.
Sate Buntel
Sate adalah makanan lezat yang popular diseluruh nusantara. Begitu pula di Solo, anda akan menemui berbagai jenis sate. Ada sate ayann, sapi, ular, anjing dan babi. Namun sate yang paling terkenal adalah sate buntel. Sate ini berbahan dasar daging kambing, hanya saja dagingnya dicincang dan dibuat satu adonan besar lalu dibakar/dimasak. Maka tak heran selain porsinya yang besar rasanya pun lebih mantap.
Wedang Ronde
Minuman hangat ini terbuat dari jahe dan gula merah. Kemudian didalamnya terdapat kacang tanah, kolang kaling yang di iris tipis dan adonan manis yang didalamnya terdapat kacang. Bukan hanya rasanya yang enak dan menghangatkan, namun sajian hidangan ini juga tampak memikat.
Dawet Gempol Pleret
Seperti namanya, minuman ini berisi gempol dan pleret. Gempol terbuat dan sejenis tepung beras. Sedangkan pleret terbuat dari ketan dan gula merah. Gempol dan pleret merupakan perpaduan antara rasa gurih dan manis, kemudlan diberi kuah santan dan gula merah. Dengan ditambah es menjadikan minuman ini terasa semakin segar.
Wedang Beras Kencur
Dibuat dari bahan beras dan kencur yang diolah menjadi minuman. Selain rasanya yang manis dan enak minuman ini juga dapat menjadt jamu yang berguna untuk kesehatan.
Wedang Jahe
Dengan kemampuan sipembuatya dalam mengolah dan meracik menjadikan wedang jahe ini begitu diminati. Minuman ini selain enak juga dapat menghangatkan tubuh, maka anda akan mudah mejumpainya pada malam hari.
Karak
Sejenis kerupuk yang terbuat dan bahan baku beras yang diolah menjadi nasi yang kemudian dikeringkan dan digoreng. Rasanya gurih, biasa digunakan untuk teman santapan soto,sayur lode dan sayuran lainnya.
Rambak Udel
Sama seperti fungsi kerupuk sebagai pelengkap, makanan rambak ini juga demikian adanya. Namun bahan baku rambak ini adalah dari kulit sapi. Makanan Ini dapat diperoleh di pusat oleh-oleh khas Solo.
Srabi Notosuman
Makanan ini terbuat dari bahan tepung beras yang dibuat sedemikian rupa dalam mengolah dan menjadikan Srabi ini begitu diminati. Bahkan dapat dikatakan makanan ini di minat banyak kalangan atas maupun bawah. Makanan ini selain enak juga dapat sebagai pengganti makanan pokok. Anda dapat mudah menjumpai makanan ini di sepanjang kota Solo, siang ataupun malam.
Langganan:
Postingan (Atom)


