Tampilkan postingan dengan label Adat Istiadat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat Istiadat. Tampilkan semua postingan
Sungkeman Bahasa Jawa
Ya lebaran .... saatnya pulang kampung (mudik) bagi yang tinggal di perkotaan. Apalagi bagi yang masih memiliki orang tua, saudara, dan lain-lain. Maka lebaran dijadikan ajang untuk bersilaturahmi dengan orang tua, kakek, nenek, sesepuh, dll...
Kalau beberapa dekade tahun yang lalu, teks sungkeman kepada orang tua atau sesepuh itu panjang dan menggunakan boso kromo. Ini contoh teks sungkeman yang masih saya ingat :
"Ngaturaken sugeng riyadi (pak/bu/mbah), minal aidzin wal waidzin, kulo tiyang enem kathah klenta-klentunipun. Ing dinten riyaya punika kulo nyuwun gunging samodra pangaksami tumrap sedoyo kalepatan kulo. Mugi-mugi kito sedoyo diparingi keslametan saking Gusti Allah SWT"
Biasanya dijawab begini :
"Pada-pada (nak/putu/buyut), aku wong tuwo yo ake salahe...... dst...........dst................"
Kalau beberapa dekade tahun yang lalu, teks sungkeman kepada orang tua atau sesepuh itu panjang dan menggunakan boso kromo. Ini contoh teks sungkeman yang masih saya ingat :
"Ngaturaken sugeng riyadi (pak/bu/mbah), minal aidzin wal waidzin, kulo tiyang enem kathah klenta-klentunipun. Ing dinten riyaya punika kulo nyuwun gunging samodra pangaksami tumrap sedoyo kalepatan kulo. Mugi-mugi kito sedoyo diparingi keslametan saking Gusti Allah SWT"
Biasanya dijawab begini :
"Pada-pada (nak/putu/buyut), aku wong tuwo yo ake salahe...... dst...........dst................"
Pranata Mangsa
Masyarakat Jawa pada umumnya menggunakan pedoman petungan
Pranata Mangsa (perhitungan musim) untuk bercocok tanam. Perhitungan
musim ini didasarkan pada pengalaman-pengalaman kaum tani di Jawa
semenjak jaman dahulu, yang berpatokan kepada gejala alam misalnya
musim penghujan dan musim kemarau.
Adapun jenis-jenis musim menurut Pranata Mangsa selama setahun:
|
No
|
Mangsa
|
Waktu
|
Keterangan
|
|
1
|
KASO
|
22/23 Juni – 2/3 Agustus
|
Musim menanam palawija; tanah sawah melungka
|
|
2
|
KARO
|
2/3 Agustus – 25/26 Agustus
|
Musim bertanam palawija tahap kedua
|
|
3
|
KETIGA
|
25/26 Agustus – 18/19 September
|
Musim panen palawija, udara dingin, minyak goreng membeku, ada lintang kemukus
|
|
4
|
KAPAT
|
18/19 September – 13/14 Oktober
|
Musim sumur mengering
|
|
5
|
KALIMA
|
13/14 Oktober – 9/10 Nopember
|
Musim hujan mulai turun, pohon asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda
|
|
6
|
KANEM
|
9/10 Nopember – 22/23 Desember
|
Musim buah-buahan mulai tua dan petani mulai menggarap sawah
|
|
7
|
KAPITU
|
22/23 Desember – 3/4 Pebruari
|
Musim banjir, badai, petir dan petani mulai tandur,
|
|
8
|
KAWOLU
|
2/3 Februari – 1 Maret
|
Musim padi mulai tegak, banyak hama dan penyakit
|
|
9
|
KASANGA
|
1/2 Maret – 26/27 Maret
|
Musim padi berbunga
|
|
10
|
KADASA
|
26/27 Maret – 19/20 April
|
Musim padi mulai berbuah
|
|
11
|
DESTA
|
19/20 April – 12/13 Mei
|
Musim panen padi, dan mulai menanam palawija
|
|
12
|
SADA
|
12/13 April – 22/23 Juni
|
Musim menumpuk jerami
|
Namun
dengan adanya pemanasan global, maka terjadi perubahan-perubahan iklim
di dunia. Sebagai gambaran, harusnya pada awal bulan Mei ini kalau
merujuk Pranata Mangsa di atas, sekarang adalah musim Desta (ke-11)
atau sedang memanen padi. Namun kenyataan sekaran ini di Karanganyar
pada umumnya mereka baru selesai tandur padi.
Busana Kejawen
Busana adat Jawa biasa disebut sebagai busana kejawen yang mempunyai perlambang atau perumpamaan terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa.
Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesame manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
1. Iket
Iket adalah tali kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng, kuat, supaya ikatannya tidak mudah terlepas. Bagi orang JAwa arti iket adalah hendaknya manusia mempunyai pemikiran yang kenceang, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.
2. Udheng
Udheng dikenakan di kepala dengan cara mengenakannya seperti mengenakan sebuah topi. Udheng artinya mudheng atau mengerti dengan jelas. Artinya manusia akan mempunyai pemikiran yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya. Artinya, manusia senantiasa mencari kesejatian hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai keahlian.ketrampilan serta dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantab atau mudheng. Atau juga berarti juga hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang professional.
3. Rasukan
Sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, hendaklah orang Jawa ngrasuk atau menganut agama dan melalu menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan iman dan taqwa. Artinya hendaklah orang Jawa takut akan Allah SWT dan bersedia untuk selalu melakukan apapun kehendak Allah SWT.
4. Benik
BUsana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) di sebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah hendaklah orang Jawa dalam berbuat selalu diniknik (diperhitungkan dengan cermat). Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.
5. Sabuk
Sabuk dikenakan dengan cara melingkarkannya ke badan. Lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai pekerjaannya itu tidak ada hasil atau buk (tidak ada keuntungan, impas). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.
6. Epek
Epek bagi orang Jawa mempunyai arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek (apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakanlah untuk tekun, teliti dan cermat, sehingga dapat memahami dengan jelas.
7. Timang
Timang mempunyai pralambang bahwa apabila ilmu yang ditempuh itu dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa kuatir (samang-samang, berasal dari kata timang).
8. Jarik
Jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang akan dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna “aja gampang serikâ€. Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu atau emosional.
9. Wiru
Jarik atau kain yang dikenakan selalu dengan cara mewiru ujungnya sedemikian rupa. Wiru atau wiron bias terjadi dengan cara melipat-lipat ujung jarik sehingga berwujud wiru. Berarti, jarik tidak lepas dari wiru. Wiru, artinya wiwiren aja nganti kleru, olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bias menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.
10. Bebed
Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya “bekerjalah†sepanjang hari.
11. Canela
Canela mempunyai arti canthelna jroning nala, atau peganglah kuat-kuat dalam hatimu. Canela sama artinya dengan cripu, selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud. Dalam hati hanyalah sumeleh, pasrah akan kekuasaan-Nya Yang Maha TInggi.
12. Curiga lan Rangka
Curiga atau keris berwujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dlam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bias untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan berbuat kebaikan.
Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesame manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
1. Iket
Iket adalah tali kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng, kuat, supaya ikatannya tidak mudah terlepas. Bagi orang JAwa arti iket adalah hendaknya manusia mempunyai pemikiran yang kenceang, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.
2. Udheng
Udheng dikenakan di kepala dengan cara mengenakannya seperti mengenakan sebuah topi. Udheng artinya mudheng atau mengerti dengan jelas. Artinya manusia akan mempunyai pemikiran yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya. Artinya, manusia senantiasa mencari kesejatian hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai keahlian.ketrampilan serta dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantab atau mudheng. Atau juga berarti juga hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang professional.
3. Rasukan
Sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, hendaklah orang Jawa ngrasuk atau menganut agama dan melalu menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan iman dan taqwa. Artinya hendaklah orang Jawa takut akan Allah SWT dan bersedia untuk selalu melakukan apapun kehendak Allah SWT.
4. Benik
BUsana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) di sebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah hendaklah orang Jawa dalam berbuat selalu diniknik (diperhitungkan dengan cermat). Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.
5. Sabuk
Sabuk dikenakan dengan cara melingkarkannya ke badan. Lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai pekerjaannya itu tidak ada hasil atau buk (tidak ada keuntungan, impas). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.
6. Epek
Epek bagi orang Jawa mempunyai arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek (apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakanlah untuk tekun, teliti dan cermat, sehingga dapat memahami dengan jelas.
7. Timang
Timang mempunyai pralambang bahwa apabila ilmu yang ditempuh itu dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa kuatir (samang-samang, berasal dari kata timang).
8. Jarik
Jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang akan dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna “aja gampang serikâ€. Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu atau emosional.
9. Wiru
Jarik atau kain yang dikenakan selalu dengan cara mewiru ujungnya sedemikian rupa. Wiru atau wiron bias terjadi dengan cara melipat-lipat ujung jarik sehingga berwujud wiru. Berarti, jarik tidak lepas dari wiru. Wiru, artinya wiwiren aja nganti kleru, olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bias menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.
10. Bebed
Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya “bekerjalah†sepanjang hari.
11. Canela
Canela mempunyai arti canthelna jroning nala, atau peganglah kuat-kuat dalam hatimu. Canela sama artinya dengan cripu, selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud. Dalam hati hanyalah sumeleh, pasrah akan kekuasaan-Nya Yang Maha TInggi.
12. Curiga lan Rangka
Curiga atau keris berwujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dlam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bias untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan berbuat kebaikan.
Tata Upacara Mantu
1. Pasang Tarup
Pada umumnya bangunan rumah yang tidak besar (tidak luas), tidak dapat menampung jumlah tamu yang banyak, oleh karena itu dibuat bangunan tambahan. Agar suasana perjamuan tampak indah, serasi dan semarak, bangunan tambahan tersebut dihias dengan gaba-gaba, berupa janur (daun kelapa yang masih muda), pelisir pare-anom (hijau kuning) atau gula-kelapa (merah putih) dan sebagainya. Pemasangan bangunan tambahan, gaba-gaba beserta ragam hiasnya tersebut disebut tarup.
Pasang tarup merupakan awal kegiatan peralatan mantu. Berbarengan dengan tarup tersebut disertakan upacara selamatan (wilujengan) yang berisi doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Rosulullah dan para leluhur, agar perhelatan perkawinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat sehingga tercapai apa yang diharapkan.
Hal yang disiapkan adalah selamatan rasulan, nasi asahan, nasi golong, ketan, kolak dan apem.
2. Upacara Buangan (Bucalan, Jawa)
Pengadaan sesaji untuk roh halus (yang baik maupun yang tidak baik) agar menjaga segala penjuru bumi, sumber air, kekayuan besar dan lain sebagainya, sehingga tidak ada yang mengganggu bahkan diharapkan membantu. Macam buangannya adalah pecok bakal dan gecok mentah.
3. Menyiagakan Beras Di Pedaringan
Bapak dan ibu yang akan mengadakan mantu agar menyiagakan beras menyiapkan diri dengan berpakaian Jawa. Ibu mengenakan kain tuluh watu dan kebaya lurik. Ibu menggendong bakul (tenggok) berisi beras, sedangkan bapak mendampinginya. Keduanya masuk ke dalam rumah terus menuju ke pedaringan (tempat menyimpan beras keluarga) untuk memasukkan beras (nyinggahaken wos = memasukkan atau menyiagakan beras yang akan digunakan untuk keperluan mantu).
4. Upacara Tanak Nasi
Ibu dengan dibantu bapak, mengambil beras dari pedaringan terus dibawa ke sumur. Bapak mengambilkan air. Ibu mencuci beras (mususi). Beras dibawa ke dapur. Bapak menyalakan api dapur. Ibu memasukkan beras ke dalam kukusan (kerucut nasi). Itulah upacara menanak nasi. Setelah itu kegiatan menanak nasi dilanjutkan orang lain.
5. Pasang Tuwuhan
Pemasangan tuwuhan (tumbuhan) mengandung maksud agar kedua mempelai di kemudian hari dapat dikaruniai tuwuh (keturunan) yang baik, yakni manusia utama.
a. Tempat Pemasangan
Tuwuhan dipasang di muka rumah dan di pintu kamar mandi tempat bermandi pengantin (siraman).
b. Jenis Tetumbuhan
Diambilkan dari tetumbuhan yang dipandang mempunyai nilai atau arti yang baik, antara lain :
- Setandan pisang suluhan, lengkap dedngan batangnya (suluh=matang di batang, tidak diperam). Dipasang di muka pintu rumah tempat menyelenggarakan perhelatan. Hal ini bermaksud, mudah-mudahan bagi yang punya kerja dapat memiliki hati yang terang dan roman yang cerah.
- Cengkir gading (kelapa muda warna gading/kuning), menunjukkan pikiran yang cerah penuh kemantaban.
- Tebu wulung batangan, melambangkan jiwa yang disertai keteguhan pendirian.
- Daun keluwih seikat, mudah-mudahan penyelenggaraan perhelatan tidak kekukrangan suatu apa, ,bahkan diharapkan serba lebih.
- Daun ilalang, semoga tidak ada hambatan atau halangan suatu apa.
- Daun apa-apa, agar terhindar dari kesukaran atau gangguan yang berupa apapun juga.
- Padi seikat, bersama.
- Dahan dan bunga (bungkah buah kapas), semoga selalu sejahtera lahir batin, cukup sandang cukup pangan.
- Ranting dan daun beringin, semoga selalu mendapatkan perlindungan (pangayoman).
- Pengaron berisi kembang setaman, ditempatkan di bawah tuwuhan. Itu sebagai suatu penghormatan terhadap Dewa penjaga wisma dan Dewi Sri (pengaron = keramik sebangsa kuali terbuat dari tanah).
Pada umumnya bangunan rumah yang tidak besar (tidak luas), tidak dapat menampung jumlah tamu yang banyak, oleh karena itu dibuat bangunan tambahan. Agar suasana perjamuan tampak indah, serasi dan semarak, bangunan tambahan tersebut dihias dengan gaba-gaba, berupa janur (daun kelapa yang masih muda), pelisir pare-anom (hijau kuning) atau gula-kelapa (merah putih) dan sebagainya. Pemasangan bangunan tambahan, gaba-gaba beserta ragam hiasnya tersebut disebut tarup.
Pasang tarup merupakan awal kegiatan peralatan mantu. Berbarengan dengan tarup tersebut disertakan upacara selamatan (wilujengan) yang berisi doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Rosulullah dan para leluhur, agar perhelatan perkawinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat sehingga tercapai apa yang diharapkan.
Hal yang disiapkan adalah selamatan rasulan, nasi asahan, nasi golong, ketan, kolak dan apem.
2. Upacara Buangan (Bucalan, Jawa)
Pengadaan sesaji untuk roh halus (yang baik maupun yang tidak baik) agar menjaga segala penjuru bumi, sumber air, kekayuan besar dan lain sebagainya, sehingga tidak ada yang mengganggu bahkan diharapkan membantu. Macam buangannya adalah pecok bakal dan gecok mentah.
3. Menyiagakan Beras Di Pedaringan
Bapak dan ibu yang akan mengadakan mantu agar menyiagakan beras menyiapkan diri dengan berpakaian Jawa. Ibu mengenakan kain tuluh watu dan kebaya lurik. Ibu menggendong bakul (tenggok) berisi beras, sedangkan bapak mendampinginya. Keduanya masuk ke dalam rumah terus menuju ke pedaringan (tempat menyimpan beras keluarga) untuk memasukkan beras (nyinggahaken wos = memasukkan atau menyiagakan beras yang akan digunakan untuk keperluan mantu).
4. Upacara Tanak Nasi
Ibu dengan dibantu bapak, mengambil beras dari pedaringan terus dibawa ke sumur. Bapak mengambilkan air. Ibu mencuci beras (mususi). Beras dibawa ke dapur. Bapak menyalakan api dapur. Ibu memasukkan beras ke dalam kukusan (kerucut nasi). Itulah upacara menanak nasi. Setelah itu kegiatan menanak nasi dilanjutkan orang lain.
5. Pasang Tuwuhan
Pemasangan tuwuhan (tumbuhan) mengandung maksud agar kedua mempelai di kemudian hari dapat dikaruniai tuwuh (keturunan) yang baik, yakni manusia utama.
a. Tempat Pemasangan
Tuwuhan dipasang di muka rumah dan di pintu kamar mandi tempat bermandi pengantin (siraman).
b. Jenis Tetumbuhan
Diambilkan dari tetumbuhan yang dipandang mempunyai nilai atau arti yang baik, antara lain :
- Setandan pisang suluhan, lengkap dedngan batangnya (suluh=matang di batang, tidak diperam). Dipasang di muka pintu rumah tempat menyelenggarakan perhelatan. Hal ini bermaksud, mudah-mudahan bagi yang punya kerja dapat memiliki hati yang terang dan roman yang cerah.
- Cengkir gading (kelapa muda warna gading/kuning), menunjukkan pikiran yang cerah penuh kemantaban.
- Tebu wulung batangan, melambangkan jiwa yang disertai keteguhan pendirian.
- Daun keluwih seikat, mudah-mudahan penyelenggaraan perhelatan tidak kekukrangan suatu apa, ,bahkan diharapkan serba lebih.
- Daun ilalang, semoga tidak ada hambatan atau halangan suatu apa.
- Daun apa-apa, agar terhindar dari kesukaran atau gangguan yang berupa apapun juga.
- Padi seikat, bersama.
- Dahan dan bunga (bungkah buah kapas), semoga selalu sejahtera lahir batin, cukup sandang cukup pangan.
- Ranting dan daun beringin, semoga selalu mendapatkan perlindungan (pangayoman).
- Pengaron berisi kembang setaman, ditempatkan di bawah tuwuhan. Itu sebagai suatu penghormatan terhadap Dewa penjaga wisma dan Dewi Sri (pengaron = keramik sebangsa kuali terbuat dari tanah).
Langganan:
Postingan (Atom)