Kuliner Karanganyar Dari Yang Unik Sampai Yang Ekstrem



Sate Landak
Kesejukan kawasan Kabupaten Karanganyar sangat mendukung wisata kuliner karena di daerah ini ada cukup banyak santapan dan penganan unik. Salah satunya adalah sate landak di kawasan objek wisata lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Di daerah ini terdapat warung makan milik Sukatno yang menjadi buruan para wisatawan termasuk pemudik.

SATE LANDAK -- Sate landak tengah dibakar di warung milik Sukatno di pinggiran jalan raya Tawangmangu-Matesih Km 2, Karanganyar. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Selama libur Lebaran, warung makan di Jl Matesih-Tawangmangu Km 2 ini kebanjiran pembeli. Tidak hanya sajian makanan yang menggoda selera, warung makan milik Sukatno ini menawarkan panorama alam pegunungan. Cukup bermodalkan Rp 30.000, konsumen dapat menikmati satu porsi sate landak dan segelas bir plethok penghangat tubuh yang berbahan rempah-rempah.

Tidak hanya sate landak, di warung ini juga menyediakan menu ekstrem lainnya seperti sate kalong, biawak dan tupai.
Pemudik dari Bandung, Cecep F, saat dijumpai, Jumat (2/9/2011), menjajal rasa daging hewan berkulit duri itu. “Ternyata rasanya enak dan tidak berbau amis. Dagingnya empuk tidak kalah dengan daging kelinci,” ujarnya.

Selain dapat mencoba menu ekstrem, para pemudik tidak perlu bingung mencari oleh-oleh khas Karanganyar. Sukatno termasuk kreator bakpia ubi cilawu khas Tawangmangu. Bukannya berisi kacang hijau seperti bakpia Pathuk khas Jogja, bakpia Cilawu berisi pisang raja dan ubi cilawu. Rasanya tak kalah nikmat dengan bakpia-bakpia yang sudah terkenal lebih dulu di pasaran. ”Selama Lebaran ini, permintaan naik hampir 200%. Karena ini satu-satunya oleh-oleh bakpia khas Karanganyar,” ujar Sukatno.

Bakpia Isi Pisang

BAKPIA KHAS -- Jika Jogja punya bakpia Pathuk dengan isi kacang hijau, Karanganyar punya bakpia khas yang diisi pisang dan ubi Cilawu, alias ubi madu Cilembu yang dibudidayakan di Tawangmangu. (JIBI/SOLOPOS/Indah Septiyaning W)
Ide awal membuat bakpia karena dia senang membuat sesuatu yang belum ada. Yang sudah ada dan yang belum ada itu, lebih banyak yang belum ada. Bakpia menggunakan pisang raja dan ubi cilawu karena dirinya ingin memanfaatkan hasil alam Tawangmangu. Benar-benar khas makanan Karanganyar. ”Pisang raja banyak ditemukan di Tawangmangu sedangkan ubi cilawu, sebenarnya ubi cilembu yang dibudidayakan di Tawangmangu. Ubi ini ubi cilembu yang berkembang di lereng Lawu,” paparnya.

Setiap pekan, sedikitnya 200 dus bakpia dilempar ke pasaran melalui toko-toko dan hotel di Tawangmangu. Tiap dus berisi 16 biji bakpia. Bakpia tersebut juga hampa udara, mampu bertahan hingga satu tahun lebih tanpa bahan pengawet. ”Kemarin kami membuat dua kali lipat dari biasa, 200 dus menjadi 400-an dus, dan kini sudah habis. Lebaran ini benar-benar laris manis,” tuturnya.

Dia menuturkan jumlah pembeli mulai mengalami kenaikan hingga 100% dibandingkan hari-hari biasanya. Kenaikan jumlah pembeli mulai terjadi pada H+1 Lebaran ini. Menurutnya, para pembeli mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. “Ya ini sudah mulai ada kenaikan jumlah pembeli,” katanya.


Sumber : http://www.solopos.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar